Total Tayangan Laman

Jumat, 03 Desember 2010

PEMERINTAH DAERAH
KOTA TANGERANG SELATAN
Jl. Raya Siliwangi No. 1 Pamulang
Kota Tangerang Selatan















KANTOR SEMENTARA KOTA TANGERANG SELATAN
Jl. Siliwangi No. 1` Pamulang
Tlp. (021) 74703955














PEJABAT WALIKOTA TANGERANG SELATAN















Hj AIRIN RACHMI DIANY SH, MH










Drs H BENYAMIN DAVNIE, M.Si

WAKIL WALIKOTA KOTA TANGERANG SELATAN












BAB I
GAMBARAN UMUM KOTA TANGERANG SELATAN

1. Sejarah Terbentuknya Kota Tangerang Selatan
Kota Tangerang Selatan adalah salah satu kota di Provinsi Banten, Indonesia. Kota ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008. Wilayah ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Rencana ini berawal dari keinginan warga di wilayah selatan untuk mensejahterakan masyarakat.
Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini masuk ke dalam Karesidenan Batavia dan mempertahankan karakteristik tiga etnis, yaitu Suku Sunda, Suku Betawi, dan Suku Tionghoa.
Wacana pembentukan kota otonom Tangerang Selatan ( dahulu Cipasera ) muncul sejak 1999. Namun belum adanya kata sepakat antara DPRD dan Pemerintah Kabupaten Tangerang tentang jumlah kecamatan yang akan tergabung dalam kota otonom ini, menghambat proses pembentukannya.
Sebagian besar warga masyarakat yang tinggal di Kecamatan Ciputat, Pamulang, Serpong, Cisauk, dan Pondok Aren menginginkan lepas dari Kabupaten Tangerang. Untuk mewujudkan keinginan itu, pada 19 November 2000, dibentuk Komite Persiapan Pembentukan Daerah Otonom (KPPDO) Kota Cipasera. Para aktivis KPPDO, pada 2002, pun melakukan kajian awal untuk mendata kelayakan wilayah Cipasera menjadi sebuah kota otonom setingkat kotamadya. Wilayah Cipasera yang memiliki luas 239.850 km persegi, kini telah menjadi daerah perkotaan yang ramai. Pada tahun 2000, jumlah penduduk yang tinggal di lima kecamatan itu hampir mencapai 942.194 ( Pagedangan diikutkan ) atau setara dengan 34,5 persen penduduk Kabupaten Tangerang. Sayangnya, wilayah yang telah berkembang menjadi kota itu tidak dibarengi dengan penataan kota yang baik.
Pertimbangan lainnya adalah aspek pelayanan masyarakat. Saat ini, dengan letak pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang di Tigaraksa — sekitar 50 km dari Tangerang Selatan — sangat tidak efektif. Dengan luas daerah dan jumlah penduduk yang tinggi, Tangerang Selatan membutuhkan konsentrasi pengelolaan yang lebih tinggi dibanding kecamatan di luar Tangerang Selatan. Dan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) enam kecamatan itu sangat besar, yaitu 309 Miliar pertahunnya atau 60% dari PAD seluruh daerah Kabupaten Tangerang. Berbagai kajian awal tentang peningkatan status wilayah Tangerang Selatan menjadi daerah otonom telah dilakukan. KPPDO Kota Cipasera ( Tangerang Selatan ) telah mengkajinya dari aspek hukum, sosial-ekonomi, sosial-budaya, sosial-politik dan aspek pertahanan-keamanan. Potensi pendapatan daerah, ekonomi, sumber daya alam, lapangan kerja, lapangan usaha, pusat pendidikan dan teknologi juga telah dikaji.
Namun pembentukan Kota Tangerang Selatan, rupanya masih panjang untuk sampai final. Ini dikarenakan Pemerintah Kabupaten Tangerang menyatakan bahwa kota tersebut hanya akan terdiri atas tujuh kecamatan. Padahal DPRD Tangerang telah sepakat dan menyetujui kota otonom itu terdiri atas delapan kecamatan. Bupati Tangerang Ismet Iskandar tidak memasukkan Cisauk dalam draf wilayah Tangerang Selatan. Padahal penetapan delapan kecamatan yang terdiri dari Setu Ciputat, Cisauk, Ciputat Timur, Serpong, Serpong Utara, Pondok Aren dan Pamulang, telah ada dasar kajian ilmiahnya.
Akhirnya tanggal 29 Septemper 2008 keluar Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan melalui Sidang Paripurna DPR-RI, dengan cakupan wilayah Kec. Setu, Serpong, Serpong Utara, Pondok Aren, Pamulang, Ciputat, dan Ciputat Timur bergabung dalam sebuah kota yang otonom bernama Kota Tangerang Selatan. Menteri Dalam Negeri Mardiyanto akhirnya meresmikan Kota Tangerang Selatan sekaligus melantik Penjabat Walikota Tangsel Ir.H.M. Shaleh, MT sebagai Walikota Tangerang Selatan.

2. Kondisi Geografis
Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu kota dari 8 kabupaten/kota di Provinsi Banten, Kota Tangerang Selatan merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang, diresmikan sebagai daerah otonom pada tanggal 28 Oktober 2008 dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 51 tahun 2008. Kota Tangerang Selatan merupakan daerah strategis karena berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, berjarak ±20 kilometer ke ibukota negara dan ±20 menit dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Batas-batas wilayah administrasi Kota Tangerang Selatan menurut Undang-undang 51 Tahun 2008 adalah sebagai berikut :
• Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pinang, Kecamatan Larangan, Kecamatan Ciledug Kota Tangerang;
• Sebelah timur berbatasan dengan Kota Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta;
• Sebelah selatan berbatasan dengan Kota Depok dan Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat dan;
• Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Cisauk, Kecamatan Pagedangan, Kecamatan Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
Secara administratif Kota Tangerang Selatan terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan yakni : Pamulang, Ciputat, Ciputat Timur, Pondok Aren, Setu, Serpong dan Serpong Utara. Kota Tangerang Selatan memiliki luas wilayah 147,19 Km2. Secara umum Kota Tangerang Selatan merupakan dataran rendah dengan letak ketinggian dari permukaan laut ±44 m.

3. Keadaan Iklim
Kota Tangerang Selatan merupakan daerah beriklim tropis, temperatur rata-rata berkisar antara 23,5 – 32,6 ◦C dan temperature minimum terendah yaitu 22,8 ◦C. Rata-rata kelembaban udara dan intensitas matahari sekitar 78,3% dan 59,3 %. Keadaan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari yaitu 486 mm, sedangkan rata-rata curah hujan dalam setahun adalah 177,3 mm. Rata-rata kecepatan angin dalam setahun adalah 3,8 m/detik dan kecepatan maksimum 12,6 m/detik.

4. Pertanian
Penggunaan lahan Kota Tangerang Selatan sebagian besar adalah untuk perumahan dan permukiman yaitu seluas 9.941,41 Ha atau 67,54% dari 14.719 Ha. Sawah ladang dan kebun menempati posisi kedua terluas dengan 2.794,41 Ha atau 18,99%. Penggunaan lahan paling kecil adalah untuk pasir dan galian yaitu seluas 15,27 Ha atau 0,1%. Jenis komoditas pertanian yang diproduksi antara lain adalah padi sawah, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang panjang, cabe rawit, bayam, terung, kangkung, petsai/sawi, dan cabe besar. Komoditas dengan luas panen terbesar, yaitu 121 Ha dengan produksi 725 Ton GKP, sedangkan komoditas dengan luas panen terkecil adalah cabe rawit yaitu 4 Ha dengan produksi 17 ton.







TABEL
LUAS PENGGUNAAN LAHAN DI KOTA TANGERANG SELATAN



TABEL
LUAS PENGGUNAAN LAHAN SAWAH DAN LAHAN KERING MENURUT KECAMATAN TAHUN 2007





TABEL
LUAS PANEN, PRODUKSIVITAS DAN PRODUK PADI SAWAH MENURUT KECAMATAN KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2007



5. Peternakan
Berbagai jenis ternak terdapat di Kota Tangerang Selatan dengan populasi yang beraneka ragam. Ternak besar yang terdiri dari sapi potong, kerbau dan kuda didominasi oleh sapi potong dengan populasi 5.073 ekor. Pada ternak kecil, dibandingkan dengan domba dan babi, kambing memiliki populasi terbesar yaitu 14.279 ekor. Unggas yang paling besar populasinya adalah ayam ras petelur dengan 1.244.888 ekor. Unggas-unggas lain adalah ayam ras petelur (populasi 490.100 ekor), ayam buras (214.946 ekor) dan itik (38.868 ekor).






TABEL
POPULASI TERNAK MENURUT KECAMATAN
DI KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2007















BAB II
PEMERINTAHAN

Secara administratif Jumlah kecamatan, kelurahan dan desa di Kota Tangerang Selatan terdiri dari 7 kecamatan, 49 kelurahan dan 5 desa. Tabel berikut memperlihatkan jumlah kecamatan, kelurahan dan desa dengan luas wilayahnya.
TABEL 1.
JUMLAH KECAMATAN, KELURAHAN DAN DESA

GAMBAR 1.
PERBANDINGAN LUAS WILAYAH MENURUT KECAMATAN
KOTA TANGERANG SELATAN

Nama-nama kelurahan dan desa di Kota Tangerang Selatan dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL 2.
NAMA KELURAHAN DAN DESA
NO KECAMATAN KELURAHAN/DESA LUAS WILAYAH
(Ha)
1 Pamulang Pondok Benda 386
Pamulang Barat 416
Pamulang Timur 259
Pondok Cabe Udik 483
Pondok Cabe Ilir 396
Kedaung 256
Bambu Apus 220
Benda Baru 266
2 Serpong Utara Lengkong Karya 210
Jelupang 126
Pondok jagung 209
Pondok Jagung Timur 225
Pakulonan 279
Paku Alam 281
Paku Jaya 454
3 Pondok Aren Perigi Baru 310
Pondok Kacang Timur 252
Pondok Kacang Barat 252
Perigi Lama 389
Pondok Pucung 362
Pondok Jaya 233
Pondok Aren 217
Jurang Mangu Barat 253
Jurang Mangu Timur 258
Pondok Karya 271
Pondok Betung 191
4 Setu Kranggan 205
Muncul 361
Setu 364
Babakan 170
Bakti Jaya 174
Kademangan 206
5 Ciputat Sarua 368
Jombang 345
Sawah Baru 274
Sarua Indah 193
Sawah 249
Ciputat 172
Cipayung 237
6 Ciputat Timur Pisangan 391
Cirendeu 308
Cempaka Putih 227
Pondok Ranji 246
Rengas 165
Rempoa 206
7 Serpong Buaran 334
Ciater 376
Rawa Mekar Jaya 235
Rawa Buntu 328
Serpong 139
Cilengggang 143
Lengkong Gudang 361
Lengkong Gudang Timur 262
Lengkong Wetan 226
Jumlah 14,719

Pemerintah Kota Tangerang Selatan berdasarkan peraturan melaksanakan urusan wajib dan urusan pilihan, Urusan wajib yang menjadi urusan Pemerintah Kota tangerang Selatan meliputi :
1. Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan;
2. Perencanan, Pemanfaatan, dan Pengawasan Tata Ruang;
3. Penyelenggaraan Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat;
4. Penyediaan Sarana dan prasarana umum;
5. Penanganan bidang Kesehatan;
6. Penyelenggaraan Pendidikan;
7. Penanggulangan masalah Sosial;
8. Pelayanan Bidang Ketenagakerjaan;
9. Fasilitasi Pengembangan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah;
10. Pengendalian Lingkungan Hidup;
11. Pelayanan Pertanahan;
12. Pelayanan Kependudukan dan Pencatatan Sipil;
13. Pelayanan Administrasi Umum Pemerintahan;
14. Pelayanan Administrasi Penanaman Modal;
Sedangkan urusan pilihan yang ditetapkan menjadi urusan pemerintah Kota Tangerang Selatan adalah :
1. Pertanian;
2. Kelautan dan Perikanan;
3. Pariwisata;
4. Perindustrian dan Perdagangan;
5. Ketransmigrasian;
6. Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral.
urusan tersebut dalam implemtasinya disusun melalui berbagai program dan kegiatan yang disusun dalam rangka mewujudkan agenda utama pembangunan Kota Tangerang Selatan.
Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Pemerintah Kota Tangerang Selatan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 yang telah diatur dalam Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 1 Tahun 2009 dan diubah oleh Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 7 Tahun 2009 terdiri dari 3 Asisten, Sekretariat DPRD, 11 Dinas Daerah, 8 Lembaga Teknis Daerah dan 5 staf ahli yaitu :
a. Sekretariat Daerah
1. Asisten Tata Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, membawahkan :
• Bagian Pemerintahan
• Bagian Kesejahteraan Sosial
• Bagian Pertanahan
2. Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan
• Bagian Perekonomian
• Bagian Pembangunan
• Bagian Pengelola Teknologi Informasi
3. Asisten Administrasi Umum
• Bagian Hukum dan Organisasi
• Bagian Umum dan Perlengkapan
• Bagian Humas dan Protokol
b. Staf Ahli
• Staf Ahli Hukum dan Politik;
• Staf Ahli Pemerintahan;
• Staf Ahli Pembangunan;
• Staf Ahli Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia;
• Staf Ahli Ekonomi dan Keuangan.
c. Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
• Bagian Risalah dan Persidangan
• Bagian Umum dan Keuangan
d. Dinas
• Dinas Pendidikan
• Dinas Pekerjaan Umum
• Dinas Pertanian dan Perikanan.
• Dinas Kesehatan.
• Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman.
• Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
• Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika.
• Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil, Sosial, Ketenagakerjaan dan Transmigrasi
• Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.
• Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata.
• Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
e. Badan
• Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA).
• Badan Lingkungan Hidup
• Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat
• Badan Kepegawaian Daerah.
• Badan Pelayanan Perijinan Terpadu.
• Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.
f. Inspektorat Kota.
g. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja
h. Kecamatan.
i. Kelurahan.





















PIMPINAN SKPD KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2010


Inspektur

Drs. Muhammad Agusman

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Drs. Hasdanil, M.Si

Kepala Pada Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan & Keluarga Berencana

Dra. Hj. Musiyati, M.Si

Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan Dan Asset Daerah

Uus Kusnadi, SE.M.Si


Kepala Dinas Pekerjaan Umum

Ir. Eddy AN Malonda

Kepala Badan Kepegawaian Daerah

Drs.Dudung E. Diredja,M.Si.

Kepala Dinas Pertanian Dan Perikanan

Ir. H. Sambadi Martadinata, MM.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan

Drs. H. Zaenal Arifin R.

Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan Dan Pemakaman

Drs. H. Didi Supriadi Wijaya

Kepala Dinas Kependudukan, Catatan Sipil, Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi

Drs. Zainal Aminin, M.Pd, M.Si.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah

Drs. H. Toto Sudarto, M.Si

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja

Drs. H. Chaerul Soleh, M.Si.

Kepala Badan Pelayanan Perijinan Terpadu

Drs. H. Mursan Sobari

Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik Dan Perlindungan Masyarakat

Nurdin, S.IP, M.Si.

Kepala Dinas Kesehatan

H. Dadang, S.IP. M.Epid.







Kepala Dinas Pendidikan

Drs.H. Dadang Sofyan, MM.

Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan Dan Pariwisata

Drs. H. Dadang Raharja,M.Si

Kepala Dinas Koperasi,Usaha Kecil Dan Menengah

Drs. H. Ismunandar.,MM

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi Dan Informatika

H. Hartadi Widjaya, S.Sos.











BAB III
KONDISI DEMOGRAFI

Jumlah penduduk Kota Tangerang Selatan pada tahun 2009 tercatat 1.042.026 jiwa, yang terdiri dari 519.851 jiwa laki-laki dan 522.175 jiwa perempuan. Jumlah penduduk terbanyak yaitu Kecamatan Pondok Aren sebanyak 261.064 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terendah yaitu Kecamatan Setu sebanyak 54.839 jiwa.
TABEL 3.
JUMLAH PENDUDUK MENURUT KECAMATAN
KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2009
KECAMATAN LUAS
(KM2) JUMLAH PENDUDUK (JIWA)
PAMULANG 26,82 217.466
SERPONG UTARA 17,84 90.625
PONDOK AREN 29,88 261.064
SETU 14,80 54.839
CIPUTAT 18,38 150.509
CIPUTAT TIMUR 15,43 160.971
SERPONG 24,04 106.552
Jumlah 147,19 1.042.026
Sumber : Profil Kecamatan Tahun 2009
Melihat jumlah penduduk diatas, maka Kota Tangerang Selatan dengan jumlah penduduk sebanyak 1.042.026 jiwa termasuk dalam kategori kota besar dengan jumlah penduduk antara 500.000 jiwa sampai dengan 1.000.000 jiwa.



GAMBAR. 2
KEPADATAN PENDUDUK PADA TIAP KECAMATAN
KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2009

Dengan luas wilayah 147,19 km2, kepadatan penduduk Kota Tangerang Selatan pada tahun 2009 adalah sebanyak 7.079,46 jiwa/km2. Kecamatan Ciputat Timur adalah kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi yaitu 10.432,34 jiwa/km2, sedangkan kepadatan terendah di Kecamatan Setu yaitu 3.705,33 jiwa/km2. Kepadatan penduduk dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya oleh berkembangnya perumahan-perumahan, adanya Pergurua negeri, dan sebagainya. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Jakarta, Kota Tagerang Selatan menjadi limpahan penduduk Kota Jakarta.





BAB IV
KONDISI SOSIAL – EKONOMI

I. PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pembangunan daerah, dengan tersedianya Sumber Daya Manusia yang berkualitas dapat memacu percepatan pembangunan di Kota Tangerang Selatan.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan sangat mendudukung kemajuan Sektor pendidikan, hal ini didukung dengan beberapa diantaranya program peningkatan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan dan program pendidikan non formal.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan, Angka Partisipasi Kasar (APK) da Angka Partisipasi Murni (APM) Kota Tangerang Selatan pada tiap-tiap kecamatan masih rendah terutama pada pendidikan tingkat menengah yang ditunjukan dengan APK 63,95 dan APM 48,72. Selain Karena tingkat partisipasi, rendahnya APK dan APM disebabkan banyaknya penduduk usia sekolah yang bersekolah di luar Kota Tangerang Selatan seperti di Kota Tangerang dan DKI Jakarta.
Keadaan penduduk Kota Tangerang Selatan berdasarkan tingkat pendidikan pada tahun 2009 berdasarkan pada jenis pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.





TABEL 4.
TINGKAT PENDIDIKAN PEDUDUK
KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2009
NO JENIS PENDIDIKAN JUMLAH
(jiwa)
1 Tidak/Belum Sekolah 92.004
2 Belum Tamat SD/Sederajat 80.808
3 Tamat SD/Sederajat 113.676
4 SLTP/Sederajat 129.361
5 SLTA/Sederajat 192.766
6 Diploma III/Akademik 52.321
7 Diploma IV/Strata I 47.369
8 Strata II 11.957
9 Strata III 6.410
Sumber : Profil Kecamatan 2009
Komposisi penduduk tahun 2009 dilihat dari tingkat pendidikan menunjukan bahwa jumlah tingkat pendidikan paling besar yaitu tingkat pendidikan SLTA/Sederajat 192.766 atau 26% dan disusul dengan tingkat pendidikan SLTP sebanyak 129.362 atau 18% dan seterusnya (data dapat dilihat pada table dan grafik).
GAMBAR 3.
PERSENTASE TINGKAT PENDIDIKAN
KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2009

Jumlah total unit sekolah di Kota Tangerang Selatan adalah sebanyak 667 unit dengan rincian 236 sekolah negeri, 5 madrasah negeri, 292 sekolah swasta dan 134 madrasah swasta. Pemerintah Kota Tangerang Selatan pada APBD tahun 2009 mengalokasikan anggaran untuk rehabilitasi 9 SD dan 9 SMP.
TABEL 5.
JUMLAH SARANA PENDIDIKAN
KOTA TAGERANG SELATAN TAHUN 2009
NO JENIS SEKOLAH RUANG KELAS
NEGERI SWASTA NEGERI SWASTA
1 SD 207 109 1.169 1.198
2 MI 2 76 12 158
3 SMP 17 104 390 770
4 MTs 1 43 NA NA
5 SMA 11 33 312 255
6 MA 2 15 NA NA
7 SMK 1 46 5 624
Sumber :Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan tahun 2009


Pada tahun 2009 Pemerintah Kota Tangerang Selatan melaksanakan program dan kegiatan pada sektor pendidikan antara lain :
1. Program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun
Program ini diarahkan untuk rehabilitasi ruang kelas SD dan SMP dan menyediakan Batuan Operasional Sekolah (BOS) pada jenjang SD dan SMP, peningkatan fasilitas sekolah, pelatihan kompetensi tenaga pendidik, pelatihan kompetensi siswa berprestasi, pelatihan penyusunan kurikulum, penambahan Ruang Kelas baru (RKB), penyediaan beasiswa, pembinaan kelembagaan dan manajemen sekolah, pembinaan minat, bakat dan kualitas siswa, akreditasi sekolah dan seleksi siswa.
2. Program pendidikan non formal
Program ini diarahkan untuk membuat kelompok-kelompok belajar
3. Program pendidikan menengah
Program ini diarahkan untuk pembangunan gedung sekolah (USB SMK), penambahan ruang kelas baru, rehabilitasi ruang kelas sekolah, peningkatan fasilitas sekolah, peningkatan kerjasama dengan dunia usaha,.
4. Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan
Program ini diarahkan untuk pemberdayaan kompetensi profesi penilik PLS, pelatihan guru SMK di P3G SMK, Workshop pengelolaan lab IPA, dan workshop model pembelajaran berbasis ICT. Pengembangan mutu dan kualitas program pendidikan dan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan, pengembangan system penghargaan dan perlindungan terhadap profesi pendidik, pembinaan KKG, pelaksanaan sertifikasi pendidik, seleksi guru, kepala sekolah dan pengawas berprestasi SD, SMP dan SMU/SMK.
5. Program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan
Program ini diarahkan untuk pemberian perlengkapan dan peralatan laboran.
6. Program pendidikan anak usia dini
Program ini diarahkan untuk terselenggaranya kegiatan pengembangan kurikulum bahan ajar dan model pembelajaran PAUD, terselenggaranya kegiatan pelatihan kompetensi tenaga pendidik, terselenggaranya pengadaan alat praktek dan alat peraga, dan terselenggaranya lomba kreativitas peserta didik PAUD non formal.

II. KESEHATAN
Pembangunan kesehatan di Kota Tangerang Selatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemauan hidup sehat masyarakat Kota Tangerang Selatan sehinggga nantinya perilaku hidup sehat bukan karena paksaan melainkan karena kesadaran masyarakat. Upaya Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat dengan antara lain dengan akan dibangunnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang Selatan pada tahun 2010, pembangunan puskesmas rawat inap pada tiap kecamatan di Kota Tangerang Selatan, pengadaan puskesmas keliling roda empat 10 unit. Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, pada tahun 2009 Pemerintah Kota Tangerang Selatan melaksanakan berbagai program yaitu :
1. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular
Dalam rangka mencegah dan menanggulangi penyakit menular, pemerintah Kota Tangerang Selatan berkoordinasi dengan pihak terkait melaksanakan kegiatan fogging fokus DBD, Pencegahan penyebaran penyakit filariasis dengan melakukan pengobatan dan pencegahan penyakit filariasis secara gratis, dan penyuluhan pemberantasan penyakit flu burung.
2. Pengadaan Obat dan Perbekalan Kesehatan
Pengadaan obat dan pendistribusian obat oleh Dinas Kesehatan pada tiap Puskesmas dalam rangka mendukung pelayanan kesehatan pada tingkat dasar dengan ketersediaan obat.
3. Perencanaan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang Selatan
RSUD Kota Tangerang Selatan direncanakan dibangun pada tahu 2010 dengan anggaran sharing antara pemerintah pusat, provinsi dan kota.
4. Perbaikan Gizi Masyarakat
Penanganan perbaikan gizi mendapatkan perhatian yang besar, pada tahun 2009 telah dilakukan penanggulangan gizi buruk pada 300 orang balita. Pemberdayaan masyarakat pencapaian keluarga sadar gizi.
5. Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak
Program ini diarahkan untuk pemberian makanan tambahan dan vitamin serta pusat pelayanan kesehatan ibu di puskesmas.
6. Program Upaya Kesehatan masyarakat
Program ini diarahkan untuk pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas, pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana prasarana puskesmas dan jaringannya.
7. Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat
Program ini diarahkan untuk pelatihan bagi bidan, sosialisasi kesehatan untuk kader PKK, pelayanan kesehatan ibu hamil, Wanita Usia Subur, nenatus, balita, pembentukan KK sehat, pembinaan wilayah dan penyuluhan kesehatan serta pembuatan profil kesehatan.



Pembangunan kesehatan di Tangerang Selatan didukung dengan sarana dan pasarana kesehatan yang memadai, adapun sarana dan prasarana kesehatan di Kota Tangerang Selatan terdiri dari rumah sakit sebanyak 14 buah, puskesmas 11 buah, puskesmas pembantu 18 buah, klinik 140 buah, rumah bersalin 97 buah, dokter praktek 211 buah, bidan praktek 175 buah dan posyandu 913 buah yang semuanya tersebar pada 7 kecamatan di Kota Tangerang Selatan.
TABEL 6.
SARANA/PRASARANA KESEHATAN
KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2009
NO SARANA/PRASARANA JUMLAH
(buah)
1 Rumah Sakit 14
2 Puskesmas 11
3 Puskesmas Pembantu 18
4 Klinik 140
5 Rumah Bersalin 97
6 Dokter Praktek 211
7 Bidan Praktek 175
8 Posyandu 913
Sumber : Data Profil Kecamatan Tahun 2009

Jumlah tenaga medis di Kota Tangerang Selatan sebanyak 282 Dokter Umum, 68 Dokter Anak, 44 Dokter Kandungan, 92 Dokter Gigi, 56 Dokter Spesialis lainnya, 260 Bidan, 282 Perawat dan 88 Dukun bayi yang tersebar di 7 kecamatan.

TABEL 7.
JUMLAH TENAGA MEDIS
KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2009

NO TENAGA MEDIS JUMLAH KETERANGAN
1 Dokter Umum 282
2 Dokter Anak 68
3 Dokter Kandungan 44
4 Dokter Gigi 92
5 Dokter Spesialis lainnya 56
6 Bidan 260
7 Perawat 282
8 Dukun Bayi/Beranak 88
Sumber: Data Profil Kecamatan
Selain hal tersebut diatas, sektor Kesehatan di Wilayah Kota Tangerang Selatan telah di dukung dengan adanya berbagai Rumah Sakit, diantaranya:
- Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah,
- Rumah Sakit Internasional Bintaro,
- Rumah Sakit Internasional OMNI,
- Rumah Sakit Eka Hospital
- Rumah Sakit Ashobirin,
- Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Lestari,
- Rumah Sakit Bhineka Husada, dll.
-
III. AGAMA
Selama tahun 2009 tercatat jumlah sarana peribadatan beberapa agama di Kota Tangerang Selatan sebanyak 497 Masjid 1.015 Mushola, 40 Gereja, 3 Pura, 6 Vihara,dan 2 Klenteng. Nuansa Islami memang lebih mewarnai kehidupan masyarakat Kota Tangerang Selatan, namun demikian kerukunan antar umat beragama tidak menjadi hambatan. Hal ini dapat dilihat pada kondisi hidup berdampingan yang tenang dan damai yang telah terjalin selama ini.
Jumlah penduduk Tangerang Selatan berdasarkan agama yang dipeluk oleh masing-masing masyarakat yaitu Islam sebanyak 902.282 jiwa, Kristen sebanyak 58.237 jiwa, Katholik sebanyak 41.185, Hindu sebanyak 24.384 jiwa, Budha sebanyak 13.844 jiwa, Konghucu sebanyak 1.974 jiwa dan Aliran Kepercayaan sebanyak 120 jiwa. Dari jumlah tersebut mayoritas penduduk Kota Tangerang Selatan memeluk Agama Islam sebanyak 86,59 %.
TABEL 8.
JUMLAH PENDUDUK MENURUT AGAMA
KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2009

NO AGAMA JUMLAH %
1 ISLAM 902.282 86,59
2 KRISTEN 58.237 5,59
3 KATHOLIK 41.185 3,95
4 HINDU 24.384 2,34
5 BUDHA 13.844 1,32
6 KONGHUCU 1.974 0,19
7 ALIRAN KEPERCAYAAN 120 0,01
Sumber: Data Profil KecamatanTahun 2009
GAMBAR 4
PERSENTASE JUMLAH PENDUDUK MENURUT AGAMA



IV. KETENAGAKERJAAN
Pada sektor ketenagakerjaan, Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyusun kebijakan, strategi dan penyusunan program dibidang ketenagakerjaan berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Adapun program yang dilaksanakan oleh pemerintah Kota Tangerang Selatan pada urusan tenaga kerja diantaranya:
7. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.
Program ini diarahkan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan bago pencari kerja, peningkatan profesionalisme tenaga pelatih dan instruktur BLK, pengembangan system informasi manajemen ketenagakerjaan.
8. Program peningkatan kesempatan kerja
Program ini diarahkan untuk penyebarluasan informasi tenaga kerja dan penyiapan tenaga kerja siap pakai.
9. Program perlindungan dan pengembangan lembaga ketenagakerjaan
Program ini diarahkan untuk penempatan OTJ di perusahaan, pengendalian dan pembinaan lembaga penyalur tenaga kerja, pembentukan dewan pengawas tenaga kerja, peningkatan pengawasan, perlindungan dan penegakan hokum terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
10. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.
Program ini diarahkan untuk pelatihan dan kursus dan pembinaan generasi muda di kecamatan.
Pada tabel 9 berikut dapat dilihat jumlah penduduk menurut jenis pekerjaan pada tahun 2009, penduduk Kota Tangerang Selatan banyak yang bekerja pada instansi BUMN/BUMD/Swasta dengan jumlah 521.192 orang atau 50,01% sedangkan yang bekerja pada sektor peternakan hanya berjumlah 210 orang atau 0,02 %.











TABEL 9.
JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS PEKERJAAN
KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2009
Sumber : Data profil kecamatan tahun 2009
V. SEKTOR PERDAGANGAN DAN JASA
Prioritas Pemerintah Kota Tangerang Selatan pada sektor perdagangan dan jasa, adalah meningkatkan akses pasar dan permodalan bagi usaha mikro dan kecil serta industri kecil. Fokus dari prioritas dalam mencapai sasaran tersebut adalah pemberdayaan usaha mikro dan kecil melalui peningkatan akses terhadap pasar dan permodalan.
Kegiatan perdagangan dan jasa tersebar di seluruh wilayah Kota Tangerang Selatan, namun yang paling menonjol hanya di beberapa kecamatan diantaranya, Kecamatan Serpong, Kecamatan Serpong Utara, Kecamatan Pamulang, Kecamatan Ciputat Timur. Fasilitas perdagangan dan jasa sebagian besar hanya tersebar di Kecamatan Serpong, Ciputat Timur dan Pamulang.

ITC BSD dan BSD Junction

TABEL 10.
SARANA DAN PRASARANA PERDAGANGAN DAN JASA








TABEL 11.
PASAR TRADISIONAL DI KOTA TANGERANG SELATAN
NO NAMA PASAR LOKASI KOMODITI YANG DIJUAL JUMLAH KIOS JML
LOS PKL LUAS AREA
1 Pasar Ciputat Kec. Ciputat Sembako, sandang, perhiasan 1.136 386 608 5.670
2 Pasar Ciputat Permai Kec. Ciputat Sembako 12 40 366 1.000
3 Pasar Jombang Kec. Ciputat Sembako, sandang, perhiasan 195 21 188 6.095
4 Pasar Bintaro Sektor 2 Kec. Ciputat Timur Sembako, sandang, 23 95 8 830
5 Pasar Serpong Kec. Serpong Sembako, sandang, perhiasan 600 323 625 8.730
6 Pasar Gedung Hijau Kec. Serpong Utara - - - 3.396
Jumlah 1.966 865 1.795 25.721

Salah satu ukuran kuantitatif yang dapat digunakan dalam pengukuran tingkat pertumbuhan ekonomi daerah dan perencanaan kedepan salah satunya adalah dengan melihat besarnya kontribusi lapangan usaha terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan untuk Kota Tangerang Selatan, perhitungan Kontribusi Lapangan Usaha terhadap PDRB diproyeksikan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007. Besarnya PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 sekitar Rp. 5,26 Trilyun dan PDRB per Kapita sebesar Rp. 5,042 Juta ( data BPS Tahun 2008).
Sedangkan struktur ekonomi Kota Tangerang Selatan apabila berdasarkan besarnya kontribusi lapangan usaha terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut :
TABEL
PROSENTASE KONTRIBUSI LAPANGAN USAHA
TERHADAP PDRB KOTA TANGERANG SELATAN
ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2007

Sumber data : BAPPEDA Kota Tangerang Selatan
Pertumbuhan ekonomi di Kota Tangerang Selatan didorong oleh kontribusi lapangan usaha pengangkutan dan komunikasi sebesar 30.29 % sebagai lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), disusul lapangan usaha perdagangan, hotel dan restoran sebesar 26.81 %. Ini menandakan bahwa kedua lapangan usaha tersebut merupakan bagian terbesar yang menggerakkan perekonomian Kota Tangerang Selatan.


BAB V
INFRASTUKTUR DAN PARIWISATA
1. Infrastruktur
Pembangunan sarana dan prasarana fisik merupakan hal yang terpenting yang juga tidak terpisahkan dengan pembangunan pada sektor lainnya, sarana infrastruktur mempunyai andil besar yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat.
Pada tahun anggaran 2009 Pemerintah Kota Tangerang Selatan melaksanakan program dan kegiatan pada urusan pekerjaan umum sebagai berikut :
1. Program pembangunan jalan dan jembatan
Program ini diarahkan untuk pekerjaan fisik, pemeliharaan berkala dan rutin jalan kota, kecamatan, kelurahan/desa, pekerjaan fisik untuk oeningkatan jalan perkotaan, pelaksanaan fisik rehabilitasi/pemeliharaan jembatan, pelaksanaan fisik pengadaan UPR dan penyusunan design ruas jalan.
2. Program pembangunan system informasi/data base jalan dan jembatan
Program ini diarahkan untuk penyusunan database jalan dan jembatan.
3. Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya
Program ini diarahkan untuk rehabilitasi dan pemeliharaan sungai, pembentukan dewa sumber daya air, dan SID normalisasi sungai.

4. Program pembangunan saluran drainase/gorong-gorong
Program ini diarahkan untuk survey kondisi saluran drainase dan gorong-gorong
5. Program pengendalian banjir
Program ini diarahkan untuk pengadaan bahan banjiran dalam rangka mengantisipasi bencana banjir
6. Program inspeksi kondisi jalan dan jembatan
Program ini diarahkan untuk pelaksanaan pengaasan pelaksanaan fisik peningkatan/pemeliharaan berkala jalan perkotaan.
7. Program pembangunan gedung/fasilitas pemerintahan
Program ini diarahkan untuk pengembangan database gedung dan bangunan.




2. Pariwisata
Sektor Pariwisata dan Entertainment (Hiburan) di wilayah Kota Tangerang Selatan yang cukup menarik banyak perhatian baik itu wisatawan dalam negeri maupun dari mancanegara, diantaranya:
- Tanah Tingal Serua,
- Kandang Jurank (Dik Doank),
- WaterBoom BSD,
- Sport Club BSD,
- Saung Gintung,
- Padang Golf Serpong,
- Padang Golf Pondok Cabe, dll.
















BAB VI
PENUTUP

Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu kota dari 8 kabupaten/kota di Provinsi Banten, Kota Tangerang Selatan merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang, diresmikan sebagai daerah otonom pada tanggal 28 Oktober 2008 dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 51 tahun 2008. Secara administratif Jumlah kecamatan, kelurahan dan desa di Kota Tangerang Selatan terdiri dari 7 kecamatan, 49 kelurahan dan 5 desa.
Jumlah penduduk Kota Tangerang Selatan pada tahun 2009 tercatat 1.042.026 jiwa, yang terdiri dari 519.851 jiwa laki-laki dan 522.175 jiwa perempuan. Jumlah penduduk terbanyak yaitu Kecamatan Pondok Aren sebanyak 261.064 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terendah yaitu Kecamatan Setu sebanyak 54.839 jiwa.
Dibentuknya Kota Tangerang Selatan sebagai daerah otonom, diharapkan dapat mendorong peningkatan pelayanan dalam bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan serta dapat meningkatkan optimalisasi pemanfaatan potensi daerah untuk kepentingan pembangunan daerah. Dengan tersedianya buku “Profil Kota Tangerang Selatan Tahun 2009” diharapkan potensi dan data yang ada dapat dijadikan bahan acuan untuk mengambil kebijakan di Pemerintah Kota Tangerang Selatan.

Sekilas Kota Tangerang Selatan

Kota Tangerang Selatan adalah salah satu kota di Provinsi Banten, Indonesia. Kota ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008. Wilayah ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Rencana ini berawal dari keinginan warga di wilayah selatan untuk mensejahterakan masyarakat. Pada tahun 2000, beberapa tokoh dari kecamatan-kecamatan mulai menyebut-nyebut Cipasera sebagai wilayah otonom. Warga merasa kurang diperhatikan Pemerintah Kabupaten Tangerang sehingga banyak fasilitas terabaikan.

Pada 27 Desember 2006, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tangerang menyetujui terbentuknya Kota Tangerang Selatan. Calon kota otonom ini terdiri atas tujuh kecamatan, yakni, Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Cisauk, dan Setu. Wilayah ini berpenduduk sekitar 966.037 jiwa.

Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini masuk ke dalam Karesidenan Batavia dan mempertahankan karakteristik tiga etnis, yaitu Suku Sunda, Suku Betawi, dan Suku Tionghoa.

Pada 22 Januari 2007, Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tangerang menetapkan Kecamatan Ciputat sebagai pusat pemerintahan Tangerang Selatan. Dalam rapat yang dipimpin Ketua DPRD Endang Sujana, Ciputat dipilih secara aklamasi.

Jumlah penduduk di wilayah ini lebih dari satu juta jiwa. Pamulang dihuni 236.000 jiwa, sedang Ciputat dihuni 260.187 jiwa. Dari dua kecamatan ini, jumlah penduduk 500.000 jiwa. Jika ditambah dengan penduduk Serpong, Pondok Aren, dan Cisauk akan berjumlah lebih dari satu juta jiwa. Sehingga, memenuhi syarat untuk suatu daerah otonom.

Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banten mulai membahas berkas usulan pembentukan Kota Tangerang mulai 23 Maret 2007. Pembahasan dilakukan setelah berkas usulan dan persyaratan pembentukan kota diserahkan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah ke Dewan pada 22 Maret 2007.

Pada 2007, Pemerintah Kabupaten Tangerang menyiapkan dana Rp 20 miliar untuk proses awal berdirinya Kota Tangerang Selatan. Dana itu dianggarkan untuk biaya operasional kota baru selama satu tahun pertama dan merupakan modal awal dari daerah induk untuk wilayah hasil pemekaran. Selanjutnya, Pemerintah Kabupetan Tangerang akan menyediakan dana bergulir sampai kota hasil pemekaran mandiri.

Batas-batas kota
•Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta & Kota Tangerang
•Sebelah timur berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta & Provinsi Jawa Barat (Kota Depok)
•Sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Bogor & Kota Depok)
•Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tangerang
Pembagian administratif
Kota Tangerang Selatan terdiri atas 7 kecamatan, yang dibagi lagi atas 49 (Empat puluh sembilan)kelurahan dan 5 Desa. Sebelumnya Tangerang Selatan merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tangerang, kemudian ditetapkan sebagai kota pada tanggal 26 November 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008.

Kecamatan
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008, Kota Tangerang Selatan terdiri atas 7 (tujuh) kecamatan:

1.Serpong dengan luas 2.404 km2
2.Serpong Utara dengan luas 1.784 km2
3.Ciputat dengan luas 1.838 km2
4.Ciputat Timur dengan luas 1.543 km2
5.Pondok Aren dengan luas 2.988 km2
6.Pamulang dengan luas 2.682 km2
7.Setu dengan luas 1.480 km2
Perubahan nama jalan
•Jalan Pondok Betung Raya = Jalan Sultan Iskandar Muda
•Jalan Raya Jombang = Jalan Haji Amir Machmud
•Jalan Jelupang - Pondok Jagung = Jalan Letnan Jendral S. Parman
•Jalan Pondok Kacang - Parigi = Jl. Raya Tentara Pelajar
•Jalan Ciater - Serua = Jalan Suharto
•Jalan Pagedangan - Serpong = Jalan Pajajaran
•Jalan Akses Tol Pondok Aren = Jalan HOS Cokrominato
•Jalan Cirendeu Raya = Jalan H. M. S. Minaredja, S.H
•Jalan Puspitek - Pamulang Dua = Jalan Veteran
•Jalan Raya Serpong = Jalan Mahar Martanegara

Kamis, 02 Desember 2010

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG–Sebanyak tiga buah jalan Provinsi Banten yang ada di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) akan dilebarkan pada tahun 2011 mendatang. Dengan dilebarkannya jalan provinsi itu, kemacetan arus lalu lintas yang kerap terjadi di Kota Tangsel bisa diurai.

Tiga jalan provinsi yang akan dilebarkan itu adalah Jalan Raya Serpong, Jalan Raya Siliwangi, dan Jalan Raya Parung-Legok (Jalan perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Kota Tangsel). Masing-masing jalan itu memiliki panjang yang bervariasi antara 1 hingga 1,5 kilometer. Jalan itu akan dilebarkan masing-masing 14 meter dari lebar saat ini.

Setiap jalan yang akan dilebarkan diperkirakan akan menelan biaya sebesar Rp 10 hingga 12 miliar yang bersumber dari dana APBD Provinsi Banten 2011. Sehingga, total keseluruhan biaya diperkirakan lebih dari Rp 30 miliar.

“Pengelolaan ketiga jalan itu berada di bawah tanggung jawab Pemprov Banten,” kata HM Shaleh, Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Pemprov Banten, Ahad (28/11).

Shaleh mengatakan, alasan dilakukannya pelebaran ketiga jalan itu adalah karena jalan itu sudah tidak kuat menampung volume kendaraan yang terus meningkat. Selain itu, terjadi penyempitan di bahu jalan karena masih adanya kendaraan umum yang ‘ngetem’ atau menunggu penumpang di bahu jalan yang menyebabkan kemacetan arus lalu lintas.

Saat ini, Pemprov Banten sedang melakukan koordinasi dengan Pemkot Tangsel terkait rencana proyek pelebaran jalan. Pemkot Tangsel melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga bertugas menyelesaikan masalah pembebasan lahan. Sedangkan Pemprov Banten lebih memfokuskan pada teknik pekerjaan pelebaran infrastruktur jalan yang menggunakan sistem betonisasi. (Endro Yuwanto/Muhammad Hafil)

Republika, 28 November 2010
REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG–Kondisi Situ Legoso atau yang lebih dikenal dengan nama Situ Kuru, sebuah situ alam yang terletak di belakang Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memprihatinkan. Pihak UIN Syarif Hidayatullah dan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel meminta pemerintah pusat untuk segera memperbaiki Situ Kuru supaya fungsinya sebagai daerah konservasi air dikembalikan.

Berdasarkan informasi yang diterima Republika dari pihak Rektorat UIN Syarif Hidayatullah, pada tahun 1980-an dulu luas Situ Kuru mencapai empat hektare. Namun, seiring dengan perkembangan UIN Syarif Hidayatullah sebagai salah satu pusat kajian Islam terbesar di Indonesia yang menarik minat ribuan mahasiswa Indonesia untuk menuntut ilmu di sana, luas situ itu berkurang saat ini hingga mencapai satu hektare saja. Warga sekitar UIN memanfaatkan Situ Kuru dengan menguruk dan membangun pemukiman atau kos-kosan bagi mahasiswa.

Saat ini pun, area situ yang telah berkurang sebanyak tiga hektare itu sangat memprihatinkan. Enceng gondok tumbuh subur di permukaan air situ dan menyumbat saluran air dari pemukiman ke arah situ hingga tidak jarang membuat pemukiman di sekitar situ dan kampus UIN itu kebanjiran karena aliran air tidak lancar.

Menghadapi kondisi seperti itu, pihak Rektorat UIN Syarif Hidayatullah segera mengambil tindakan. Dalam rencana jangka pendeknya, mereka meminta Pemkot Tangsel dan pemerintah pusat melalui Balai Besar Sungai Ciliwung-Cisadane untuk membersihkan enceng gondok yang tumbuh subur di atas permukaan air situ. Rencana jangka panjangnya adalah pihak Rektorat UIN menginginkan bangunan yang sudah didirikan oleh warga di area situ untuk dibongkar sehingga tiga hektare luas situ yang hilang bisa kembali.

“Namun tentunya rencana jangka panjang seperti itu sangat sulit untuk dilakukan,” ujar Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum UIN Syarif Hidayatullah, Profesor Amsal Bachtiar kepada Republika, Ahad (28/11).

Menurut Amsal, beberapa waktu lalu pihaknya mengundang warga yang mendirikan dan mengakui sebagai pemilik bangunan di area Situ Kuru terkait rencana tersebut. Secara umum, warga setuju dengan perbaikan Situ Kuru dengan membersihkan enceng gondok yang menyumbat saluran air. Namun, warga menolak jika bangunan yang sudah didirikan harus dibongkar sebelum adanya ganti rugi dari pemerintah. (Endro Yuwanto/Muhammad Hafil)

Republika, 28 November 2010
REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG–Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) menganggarkan biaya sebesar Rp 40 miliar untuk pembangunan TPST Cipeucang beserta sarana pendukungnya. Secara bertahap, pembangunan TPST tersebut diperkirakan rampung pada tahun 2012 mendatang.

Menurut Pjs (Penjabat Sementara) Kepala Dinas Kebersihana, Pertamanan, dan Pemakaman Kota Tangsel, Joko Suryanto, dana sebesar itu diambil dari APBD Kota Tangsel tahun 2011. Keseluruhan dana yang dikeluarkan itu diperuntukkan untuk penyediaan lahan TPST di Kecamatan Setu seluas empat hektare dan sarana pendukungnya.

“Sarana pendukungnya itu adalah akses jalan, lampu PJU (Penerangan Jalan Umum), dan armada pengangkut sampah, “ kata Joko kepada Republika, Selasa (30/11).

Menurutnya, akses jalan menuju TPST sedang dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangsel saat ini. Sedangkan untuk penyediaan lahan seluas empat hektare tersebut masih dilakukan tahap pembebasan lahan yang sudah hampir selesai. Penyediaan lampu JPU akan dikerjakan pada tahun 2011 mendatang.

Mengenai armada pengangkut sampah, Joko mengatakan pihaknya akan membeli truk pengangkut sampah sebanyak 15 unit. Jumlah tersebut akan ditambah bantuan dari Pemerintah Provinsi Banten yang akan menghibahkan lima unit truk sampah. Ditambah, sembilan unit truk sampah yang saat ini dimiliki oleh Pemkot Tangsel. “Jadi nanti kita akan miliki 29 unit truk pengangkut sampah,” katanya.

Mengenai teknologi yang akan digunakan pada TPST tersebut, Joko menyatakan pihaknya saat ini masih melakukan kajian terhadap beberapa jenis teknologi pengolahan sampah. Namun, Joko menggambarkan teknologi yang akan digunakan harus sesuai dengan standar keselamatan lingkungan hidup dan bisa menghasilkan keuntungan ekonomi. “Ya misalnya dengan teknologi pencacahan sampah yang bisa mengasilkan pupuk kompos,” ujarnya. Budi Raharjo
TEMPO Interaktif, Jakarta -Pemerintah Kota Tangerang Selatan akan mengarahkan pembangunan gedung dan perumahan di wilayah tersebut menjadi vertical atau mengarah ke atas. Langkah ini dilakukan sehubungan dengan semakin tipis dan terbatasnya lahan kosong di kota seluas 14 ribu hektar tersebut.

Kepala Dinas Tata Kota Bangunan dan Pemukiman Kota Tangerang Selatan, Nur Selamet mengatakan saat ini dari 14 ribu hektar total luas Tangerang Selatan, 70 persennya sudah dikuasai pengembang dan sisanya terdiri dari pemukiman dan perkantoran yang dikuasai oleh pemerintah dan perorangan,” Ini berarti lahan yang tersisa sangat dikit dan terancam habis,” ujarnya kepada Tempo hari ini.

Nur Selamat mengatakan, pembangunan perumahan dengan sistem cluster atau satu pintu di wilayah Tangerang Selatan nyaris tidak terkendali. Dengan jumlah sekitar 250 pengembang besar dan kecil membuat luasan lahan yang dikuasai untuk kawasan pemukiman ini sudah hampir mencapai 70 persen. “Kita tidak bisa membatasi jumlah pengembang dan wilayah pembangunannya apalagi payung hukumnya belum ada,” katanya.

Menurut Selamat, saat ini Kota Tangerang Selatan masih menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan diharapkan selesai tahun depan. Arahannya kota yang baru terbentuk setelah pisah dari induknya Kabupaten Tangerang ini menjadi kota dagang, jasa dan pemukiman.

Dalam konsep RTRW Tangerang Selatan yang baru itu, kata dia, konsep yang akan dikembangkan adalah pembangunan gedung vertikal agar lahan yang tersedia tetap terjaga dan kota baru itu dapat dikembangkan dengan baik.

Penataan pembangunan gedung dengan konsep vertikal, kata Nur Selamat nantinya akan ditetapkan dalam Peraturan Daerah Tangerang Selatan yang kini raperdanya tentang rencana pengembangan pembangunan pemukiman dan perumahan Daerah (RP4D) sedang digodok.

Raperda itu juga akan akan mengatur arus lalu lintas yang menghubungkan antar wilayah kawasan perumahan dan cluster perumahan. ”Nantinya setiap cluster terutama jalan utamanya harus terintegrasi dengan cluster lain sehingga arus transportasi tidak terpusat di satu titik sehingga tidak menimbulkan kemacetan,”katanya.

Namun untuk mewujudkan hal tersebut, menurut Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Tata Kota Bangunan dan Pemukiman Tangerang Selatan Toni Suwandi tidak mudah. Selain kota ini sudah adi dengan segala kekurangannya, lahan yang tersedia untuk pembangunan infrastuktur yang memadai juga terbatas. ”Kawasan sudah lama jadi dan sekarang untuk menatanya bukan hal gampang. Untuk pembangunan jalan saja butuh biaya yang sangat besar terutama untuk ganti rugi lahan masyarakat karena nilai jual tanah di Tangsel sangat tinggi,” katanya.

Menurut dia, setelah Tangerang Selatan terbentuk, jumlah pengembang dan penduduk yang tinggal di wilayah ini terus meningkat. Namun dia tidak dapat menjelaskan jumlah pastinya. Hanya saja sekarang dapat dirasakan arus lalu lintas makin padat sementara ruas jalan yang ada sangat terbatas dan sempit. Sehingga terutama jam sibuk kerap terjadi kemacetan yang sangat parah. ”Setiap hari ratusan petugas dikerahkan. Kondisi ini tidak mungkin dilakukan setiap hari bertahun-tahun, sehingga perlu dicari solusi. Saat ini yang tepat adalah mengintegrasikan antar kawasan cluster perumahan yang satu dengan yang lain,” katanya. Joniansyah

Tempo Interaktif, 2 Desember 2010